Wednesday, July 12, 2017

Cerita Sex Ibu Tiri Yang Bernafsu Tinggi

AIRMANIH - Izal nama panggilanku, di website majalah dewasa ini aku menuliskan Cerita Sex Ibu Tiri Yang Bernafsu Tinggi. Kalau berbicara tentang fisik aku seorang laki-laki yg biasa-biasa saja, namun aku mempunyai kelebihan dalam hal gaya.


Karena aku tipe laki-laki yg selalu menjaga penampilan, sebab aku bisa seperti itu karena orang tuaku banyak uang.

Sehingga untuk masalah life style, uang jajan, dan fasilitas kendaraan aku lebih unggul dari cowok-cowok lain.

Sampai pada suatu hari, aku agak bosan dengan tipe cewek yg binal dan matre karena terlalu mudah untuk di tiduri, pada akhrinya akupun mencari pasangan yg berhijab. Untuk mendapatkan pacar yg berhijab, aku tidak merasakan kesulitan.

Yah, namanya lelaki pastinya ingin merasakan barang baru kali ya" pikirku dalam hati.

Pada saat itu aku mencoba untuk merayu dan mengajak pacarku yg berhijab untuk berhubungan intim. Huuh... namun apa hasilnya ? Alhasil aku diputuskan oleh pacarku yg berhijab tadi. Namun ya udahlah namanya juga cewek solehah, pastilah mereka menjaga auratnya.

Singkat cerita selang 1 minggu aku diputuskan oleh pacar, maka munculah pemikiran untuk melakukan pemerkosaan kepada wanita berhijab, namun misi ini harus berakhir dengan kepuasan dari si korban agar aku ngak terjerat undang-undang asusila.

Hemmm... Saat itu aku berfikir keras, apa bisa ya misi aku ini akan berhasil...!!!

Hari demi hari aku memikirkan rencana itu dengan serius, sampai pada akhirnya akupun menemukan cara itu namun dengan syarat korban harus cewek yg aku kenal dekat, Si korban harus tidak perawan lagi, karena kehilangan keperawanan akan menimbulkan rasa trauma, setelah itu aku mempersiapkan peralatan yang lengkap.

Peralatan itu seperti obat perangsang wanita.

Jauh-jauh hari aku udah mempersiapkannya, pada akhirnya setelah aku merasa rencananya udah matang, maka akupun melakukan seleksi korban, dan pada akhrinya aku menemukan calon korban itu.

Sebut saja namanya Ibu Astri, dia adalah wanita berhijab yg sudah dan mempuyai 1 anak. Jadi jika aku memilih bu Astri ini sebagai calon korban adalah hal yang tepat, karena dimanapun tempatnya bu Astri ini selalu sendiri.

AIRMANIH - Jika aku tafsirkan usianya baru sekitar 30 tahunan, walaupun bu Astri ini berhijab namun dia tampak sangat cantik dan menarik sekali. Apalagi hijabnya ala masa kini. Dari balik pakain hijabnya aku bisa melihat keindahan toked dan bokongnya yang semok sekali.

Seperti yg aku rencanakan tadi korban harus mengenalku, nah Bu Astri ini cukup mengenal aku karena aku sering main ke tempat kost Bu Astri.

Jika berbicara tentang wajah, wanita yg terbilang udah setengah matang ini sangat lah pas dengan gayanya, karena wajah dan tubuhnya sangat indah jika dipandang, apalagi kalau bisa dirasakan.

Tak jarang pula mataku melotot ketika melihat pantat semok dan payudaranya yg masih segar.

Pagi itu terlihat suasana kost udah sepi, karena semua penghuni kost udah berangkat kuliah dan anaknya bu Astri juga berangkat sekolah.

“Selamat pagi bu Astri ” ucap sapa ramah

Pada saat itu kebetulan sekali Bu Astri sedang bersih-bersih dan membereskan ruang tamunya. Mendengar sapaanku Bu Astripun menyambut kami.

“Eh... ada Izal, kok tumben kamu datangnya pagi-pagi sekali, emangnya pagi-pagi gini kamu mau ngapelin siapa ?” ucap Bu Astri.

“Bener juga ya Bu, sepi banget ini kostnya. Terus aku mau ngapain yah ke sini, padahal aku udah bawa Pizza nih buat para cewek... hehehe..."candaku

“Wah sayang banget dong Pizzanya” Balas bu Astri yg terus membereskan ruang tamunya.

Pada saat itu posisi Bu Astri agak membelakangiku sehingga pantat semok dibalik rok panjangnya terlihat bergerak-gerak yg membuat jantungku semakin berebar-debar saja, lalu...!

“Daripada mubazir, gimana Pizzanya kita makan aja Bu, mau ngak?” ajakku

“Beneran nih, kalau kamu maksa sih Ibu ngak bakalan nolak deh hehehe...” ucapnya dengan canda

Hemm... Seandainya saja Bu Astri tahu maksud kedatanganku" dalam hatiku berbicara

“Yaudah Bu silahkan dimakan saja Pizzanya" sahutku sembari membuka kardus pizza yang masih panas itu.

AIRMANIH - Kemudian Bu Astri tanpa rasa sungkanpun mulai nimbrung denganku sambil menikmati pizza yang lezat itu, padahal dia ngak tau bahwa Pizza itu udah aku campuri obat perangsang.

“Oh iya bu, aku lupa beli minuman loh” ucapku.

“Udah kalian tenang aja, emang kamu mau minum apa?” ucap Bu Astri menawarkan minuman.

“Hmmmm.... apa yah..!!!" aku berpura-pura mikir. "kalau boleh sih aku pinginya minum susu murni deh hehe...” ucapku memancing hawa nafsunya.

“ Wah... Susu murni kayaknya ibu ngak punya deh, gimana kalau kopi aja ya?” ucapnya menawarkan minuman lain.

Ternyata Bu Astri benar-benar ngak tahu maksudku datang, padahal susu yang aku maksud adalah susu murni dari payudara Bu Astri. Setelah itu aku menjadi tak sabaran ingin segera meremas payudara yg besar dan kencang itu,

“Masa sih Ibu engak punya susu...?” candaku dengan melirik payudara Bu Astri.

“Hmmm... dasar kamu Izal, ngeres aja pikiranya... Husss... husss jangan gitu ngak bagus !!!” kata Bu Astri yg mulai sadar kalau aku terus-terusan memandangi payudaranya dengan penuh nafsu.

Obat bius perangsang yang aku masukkan di Pizza itu cukup banyak, jadi aku hanya tinggal menunggu reaksi saja sambil menunggu dia balik lagi membawa minuman kopi susu kepadaku.

Ketika dia kembali, aku melihat reaksi dari jalannya yang sempoyongan.

"Aduuh... Aduuuh... pusing kepala Ibu Zal..." ucapnya kepadaku

"Waduuhh... jangan pingsan dong bu, ngak seru dong kalau pingsan gini" ucapku menenangkan suasana.

"Aku pijitin aja deh ya...!" tawarku

"Ya udah Zal, pijitin kepada Ibu yang enak ya, biar mendingan dikit" balasnya.

Aku menyuruhnya terlentang di atas sofa, lalu aku pijit bagian kepalanya secara perlahan-lahan dan santai. Padahal aku tau obat bius itu sedang bekerja di tubuhnya.

Ketika aku asik-asik memijit, aku melihat reaksi mata dari Ibu Astri merem melek, dan ngos-ngosan tanda dia sudah terangsang.

AIRMANIH - Mulai dari mijitian kepalanya, perlahan-lahan aku turun ke bawah yaitu bagian leher, dan terus ke bawah lagi yang akhirnya sampailah ke bagian tokednya yang montok itu. Tetapi toked itu masih tertutup oleh kain yang berlapis yaitu Baju + BH.

Hmmmm... Hmmmm... ! suara ibu Astri mulai terdengar ketika aku pijit tokednya dari luar.

Tidak aku hiraukan desahannya itu, dan aku terus berfokus mencari celah memasuki tanganku ke dalam bajunya untuk memegang puting susunya.

Izal... kamu jangan bandel ya...! latah bu Astri ketika tanganku berhasil memegang puting susunya.

Lagi-lagi aku tidak menghiraukan itu, dan aku terus berfokus membuat rangsangan pada tubuhnya yang udah di campuri obat bius yg aku siapkan tadi.

Tak lama kemudian, aku mendengar kembali suara desahan dari bu Astri"Aaahhh... Ahhhh... Sssshhhhh..." desahannya yang panjang.

Kepikir di benakku ingin berganti tempat rangsangan, maka aku pindahkan tanganku mengoles-ngoles bagian vaginanya. Aku membelai paha Bu Astri dengan lembut dan sekali-kali mencium bibirnya supaya tidak ngos-ngosan.

Paha itu terlihat mulus sekali yang di tambah dengan cangcut yang transparan. Yang tanpa aku buka, aku sudah bisa melihat isi dalam vaginanya yang sedikit campuri bulu-bulu halus.

Dengan nakal aku mulai menciumi selangkangan Bu Astri, suaranya menjadi keras, apalagi disaat aku mencium tepat di bagian klistorisnya.

Awwwww... Ssssshhhh... !" begitu kira-kira suara jeritannya

Dengan lembut dan kalem, aku menyapu bersih bagian vaginanya dari atas sampai bawah tanpa ada tersisa dari jilatan bibirku.

Melihat reaksi Bu Astri yang membara, Aku semakin terbakar nafsu, Dengan cepat-cepat aku mengambil posisi dan mengarahkan batang penisku ke depan bibir vaginanya.

"Bu siap gak nih...?" tanyaku

"Oke..." balas bu Astri sambil menganggukkan kepalanya

"Bleess..." masuklah batang kemaluanku yang kebetulan vaginanya itu ngak terlalu sempit, apalagi dia sudah punya 1 anak. Aku melihat wajah Bu Astri semakin mesum saja. Sehingga Aku cium lagi dan ia juga membalasnya.

Ronde ini baru dimulai. sambil bergoyang, sambil cipokan pula kami di atas sofa itu.  Sampai akhirnya ruang tamu rumahnya itu di penuhi suara oleh kulit kami yang beradu.

Plok... Plok... Plok...!!! kira-kira bunyinya seperti itu.

Hingga aku bosan berada posisi di atas, aku mengajaknya untuk berubah posisi.

“Bu kita pakai gaya Doggy style aja ya...!!!” ajakku

“Gaya apaan tuh Zal?” jawabnya pura-pura ngak tau

“Itu lho bu, ibu posisi nungging lalu aku sodok dari belakang” ucapku menjelaskannya

AIRMANIH - Faktanya bu Astri menurut saja, dia kemudian bangkit dari sofa, lalu nungging mengarahkan lubang vaginanya ke penisku.

Wow... pantat semoknya membuat aku semakin tak sabar menikmati permainan inti. Aku pun menempelkan penisku di pantatnya.

Agak mudah memang bermain dari posisi belakang ini, goyanganku pun bisa di atur cepat ataupun lambat. Namun tetap nikmat. Aku menggenjotnya dengan irama perlahan seakan membelai dinding-dinding memek-nya.

Bu Astri tampaknya sangat menikmati permainanku. Pantat semoknya bergoyang-goyang mengikuti irama sodokanku. Sampai akhir aku merasa otot memeknya mulai mencengkram sebagai tanda dia akan orgasme.

Aku segera kabari dia" Bu kita barengan aja klimaksnya" ucapku di sela-sela asik menyodok dari belakang. Dengna mempercepat tempo permainan dan akhirnya aku bisa meraih orgasme bersamaan.

Crooot... Crooot... Crooot...! air maniku muncrat di dalam lubang memeknya, setelah itu bu Astri menggelepar di atas sofa, yang di susul tubuhku menindihnya.

“ Bu, engak marah kan kalau kita hubungan intim kayak gini...?” tanyaku

“Kamu emang kurang ajar, cari kesempatan dalam kesempitan ya... Tapi mau gimana lagi, abis tadi ibu udah terangsang malah kamu urut-urut deh.

“Tapi enak kan Bu uratan tanganku” candaku yg masih menindih tubuhnya

“ Iya juga sih, lain kali bawain ibu Pizza aja ya kalau di sini lagi sepi” ucap Bu Astri dengan tersenyum puas

AIRMANIH - Dari nada biacaranya tadi, terdengar jelas bahwa dia mau jika aku setubuhi lagi. Singkat cerita setelah 1 minggu kemudian, aku datang lagi ke rumahnya dengan membawa Pizza sebagai kode awal. Dan ternyata bu Astri tau saja maksudku dan dia mengajakku untuk bermain di kamar pribadinya.

Hal itu tidak aku sia-sia kan. Aku hajar lagi dia dari arah belakang sampai air maniku muncrat dan muncrat lagi.

Popular Posts

Newsletter